Timbalmerupakan logam berat yang tidak heating/magnetic stirrer, analytical balance Ohaus model E 02140 dan pH-meter digital. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: timbal nitrat, besi nitrat, tembaga (II) perbandingan 10 : 1 dan setelah penambahan ion Fe3+ 10 ppm sebanyak 1 mL. Hal tersebut
14Mei 2014. Turbiditimeter - Alat Penguji Kekeruhan Cairan - Kekeruhan adalah keadaan mendung atau kekaburan dari cairan yang disebabkan oleh individu partikel (suspended solids) yang umumnya tidak terlihat oleh mata telanjang, mirip dengan asap di udara. Pengukuran kekeruhan adalah tes kunci dari kualitas air .
Dibebek standar, balancer sekaligus sebagai rumah kopling sentrifugal. "Beratnya 1,4 sampai 1,5 kg," jelas Nanang Gunawan dari MCC Motorsport yang sudah timbang sentrifugal semua motor bebek. Kalau di mobil, balancer sama seperti fly wheel. Mekanik lokal biasa menyebut roda gendeng atau roda gila.
Bisadibandingkan dengan magnet spesial engine pabrikan Yamaha itu. "Ukuran pastinya 38,5 mm. Ini menggunakan rumus perbandingan," Yuk dibuktikan kalau dua ukuran berbeda itu secara hitungan sama. Bisa manual atau pakai rumus. akan dibutuhkan bobot balancer yang ringan. Bagitu juga kalau trek lurusnya sangat panjang, butuh balancer
Berat 900 gram: Asal Barang: pada tempat atau permukaan benda yang diukur.x000Dx000DHalaman ini menjual Dial Indicator dengan Magnetic Basex000Dx000DBila anda tidak membutuhkan Magnetic Base. 0-40-0 balance inches.x000DThis dial test indicator is designed for measurement during machining,
universitasindonesia modifikasi nanopartikel emas dengan 2-merkaptoetanol - asam sianurat sebagai sensor melamin skripsi putri lestari 0706263321 fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam departemen kimia program s1 reguler depok januari 2012. by kahar kahar. isolasi senyawa metabolit sekunder pada daun srikaya.
Dengandemikian, gaya tekan yang diberikan untuk setiap bejana A, B, dan C adalah FA = FC < FB. SOAL 2. Untuk mengangkat sebuah mobil yang massanya 4 ton dipergunakan pompa hidrolik seperti bagan pada Gambar 1.2. Jika perbandingan diameter pengisap 1 dan 2 yang berbentuk silinder adalah 1 : 50, maka gaya yang diperlukan pada pengisap 1 adalah.
Permainanmagnet ini juga ditemani pemakaian CDI BRT tipe Imax 50 step yang seting timingnya bermain di angka 22. "Cara ini justru lebih efektif ketimbang pakai magnet YZ," timpal tuner yang juga bermarkas di Kita-Kita Motorsport itu. Menariknya, meski bermain di kelas MP1, tapi seting Supra X 125 ini tak ubahnya pacuan kelas MP3.
Go9m1. Percuma! Mesin sudah kencang tapi tidak mengatur ulang balancer atau bandul di kruk as. Power yang dihasilkan tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk memutar roda. Balancer di motor 4-tak berfungsi sebagai pelontar atau bahasa kerennya torsi. Di bebek standar, balancer sekaligus sebagai rumah kopling sentrifugal. βBeratnya 1,4 sampai 1,5 kg,β jelas Nanang Gunawan dari MCC Motorsport yang sudah timbang sentrifugal semua motor di mobil, balancer sama seperti fly wheel. Mekanik lokal biasa menyebut roda gendeng atau roda gila. Apapun istilahnya, yang penting mekaniknya tidak gila. Setuju..!Kalau di motor bebek balap, sentrifugal yang disebut sebagai fly wheel bobotnya harus diatur ulang. Di motor standar memang sangat berat antara 1,4 sampai 1,6 kg. Karena motor harian dipakai untuk menanjak dan kadang juga menemukan trek yang sangat panjang. Di motor balap, seperti di pacuan Asep Kancilβ Maulana dari Yamaha SND KYT FDR yang juara MP1 dan MP2. Di MotoPrix Seri IX lalu di sirkuit Subang, menggunakan balancer 300 gram. Memang sangat enteng karena Asep punya bobot yang ringan. Juga dipengaruhi waktu tutup klep isap yang mencapai 65ΒΊ setelah TMB atau Titik Mati Bawah. Karena menutup terlambat dan kompresi hanya bermain di angka 13-an, balancer harus dibuat ringan. Termasuk menggunakan magnet YZ supaya motor Asep, balancer enteng untuk mengimbangi kompresi rendah. Supaya putaran mesin enteng dan mudah berakselerasi. Juga karena sirkuit Subang yang semua treknya pendek. Jadi, bobot balancer ada hubungan yang saling berkaitan antara seting mesin, bobot joki dan rasio yang digunakan. Juga termasuk trek sirkuit yang dilalui. Makin enteng, akan dibutuhkan bobot balancer yang ringan. Bagitu juga kalau trek lurusnya sangat panjang, butuh balancer yang berat. Agar top-speed bisa maksimal dibantu lontaran balancer itu. Itu yang membuat Koh Nanang memproduksi balancer dalam beberapa pilihan berat. Misalnya untuk Yamaha Jupiter-Z, mantan pembalap era 1970-an itu juga bikin bandul yang bobotnya 350 gram, 400 gram dan 550 gram. Dikasih harga Rp 850 ribu. Beda lagi kalau untuk Supra X 125 Karisma atau Blade. Tersedia bobot 300 gram dan 1,1 kg. Bedanya sangat timpang. Ini perlu diperhatikan. Bobot 1,1 kg ini biasanya dipakai untuk drag bike sampai 200cc. Kapasitas mesin juga berpengaruh terhadap bobot balancer. Namun kalau stroke up atau naik stroke, balancer bisa pasanga yang lebih Nanang juga membuat balancer dari bahan dural atau aluminium. Pemilhan bahan itu dimaksudkan supaya diameter lebih lebar karena aluminium ringan. Dengan begitu, diameter bandul jadi lebih besar, bagus untuk mengejar torsi.
[QUOTE=khartanto;432984012]terima kasih Pak Dhe Toga buat kesimpulan dalam menentukan bobot balancer, ada yang mau saia tanyakan juga mengenai cara menentukan bobot balancer contoh pada motor supra x 97 cc. Pak Dhe kalo saia mau mengadopsi Magnet Racing-racingan copy kitaco-kitacoan malus [spoiler=gambar magnetnya][img] Begini Pak Dhe bahwa beban magnet racing ini kurang lebihnya 160-161 gram, nah ini akan diadopsi pada motor supra x 97cc saia. Kira-kira untuk menyeimbangkan berat beban bandul balancernya diperlukan berapa gram u/ keseimbangannya Pak Dhe? Adapun yang akan saia gunakan bahan2nya yaitu - kruk as kharisma yang akan dimodif mengikuti bentuk dari Kruk As bawaan supra-xnya - Magnet Racing dengan berat beban 160-161 grama rata-rata. - Stang seher standar pabrik bukan stang seher grand - Pin rod standar pabrik tanpa naik stroke - Bearing SKF Esplorer 6304/C3 Standar - Pengganti gigi primer pada jedek punya mona yg jumlah mata giginya 17 mata gigi karena mengadopsi Gear Oil Pump Drive beserta Oil Pump Mona ini ditimbang pake kiloan beras hanya 20 gram - Gigi sekunder jedek pake after market TK yang jumlahnya 18 mata gigi dengan panjang 2,8 cm ini ditimbang pake kiloan beras beratnya 90 gram - Rumah Kopling After Market TK 68 mata gigi - Crankcase dalam kanan Mona Ilustrasi rumus yang saia dapatkan dari beberapa sumber sbb Nah saia mau Planning applikasi berat balancer, mohon dikoreksi Pak Dhe T1 = T2 M1 x L1 = M2 x L2 M1 = Berat Magnet gram L1 = Panjang Poros Kruk As chamshaft Kiri M2 = Berat Bandul Balancer L2 = Panjang Poros Kruk As chamshaft Kanan M1 = 161 gram berat magnit racing L1 = 9,5 cm Panjang Poros Kruk As Supra Kiri L2 = 12,7 cm Panjang Poros Kruk As Supra Kanan Didapat M2 = M1 X L1/L2 = 120,433 gram u/ bandul balancer Nah maksudnya apa betul berat beban bandul balancer yg dibutuhkan itu harus 120,433 gram? sedangkan yang saia pikirkan sekarang ini andaikata gigi primer dan gigi sekunder jedek saja sudah 110 gram terpasang apakah balancer butuh 10 gram soalnya berat pengunci/ baut pada poros kruk as kanan tidak 10 gram Pak Dhe, Mohon pencerahan seputar cara menentukan bobot balancer yang efektif, Pak Dhe. cmiiw. Matur Sembah Suwun Pak Dhe togafantiarso. Ada lagi Pak Dhe apa perlu memotong poros kruk As Kanan?[/QUOTE] thanks buat pertanyaan yang bagus ini... pada dasarnya saya sendiri pun blom tau hitungan yang pasti untuk menentukan berapa angka yang tepat untuk menentukan bobot yang tepat.. pada tulisan saya sebelumnya saya katakan bahwa semua saya lakukan dengan trial error berdasarkan data dari catatan waktu yang saya dapatkan dan input data yang saya terima dari sang joki..sebelumnya saya bilang ada beberapa batasan untuk menentukan sebuah parameter yang tepat dalam mencari jawaban berapa kira2 bobot yang tepat.. 1 contoh motor untuk bermain 800m final gearnya motor saya menggunakan 17 / 27..pernah saya gunakan magnet dengan bobot 550 gram dan balancer 300 gram hasilnya motor saat start power drop dan tidak memuaskan..dan sekarang saya menggunakan bobot yang lumayan berat dan bbot blancer 1000gram..baru saya rasa mendapatkan kombinasi yang pas menurut saya.. kembali kepertanyaan mas bro nih..saya mo tau dulu motor akan bermain di jarak berapa?dan klo diliat dari ukuran bobot magnetnya itu terlampau ringan..saya pernah menggunakan bobot magnet 900 gram dan balancer 600 gram dan hasilnya lumayan.. dan jika dilihat dari CC nya yang masih murni 97cc torsi yang dihasilkan pun masih relatif kecil,,ini membutuhkan tambahan daya dorong awal dari torsi balancer atw magnet.. solusi yang saya bisa tawarkan mungkin dengan menggunakan bobot magnet std dan balancer kisarn 700 gram akan lebih membantu ketimbang magnet dan balancer ringan jika torsi yang dirasa masih kurang cukup.. Note - makin besar diameter lingkar luar dari media yang berputar maka energi potensialnya pun akan lebih besar ketimbang dengan diameter yang lebih kecil dan bobot yang lebih berat... - makin jauh jarak poros dengan benda yang berputar dengan benda lainnya..makin besar juga moment puntir yang di hasilkan pada poros tersebut.. - Untuk benda yang perputar dengan potensi kecepatan kerja yang tingggi lebih baik poros2 putar memiliki panjang yang relatif singkat atw pendek untuk mencegah terjadi gaya puntir yang berlawanan yg dapat menyebabkan terputusnya poros..dan membuat poros lebih kuat ketimbang dengan panjang yg sebelumnya kondisi sebelum di pendekan
Magnetisasi paralel terdapat pada arah radial dan tangensial. Berikut adalah persamaan untuk mendapatkan magnetisasi paralel. ππ π, β
= ππβ πΜ + πβ
β πΜ dimana Mr magnetisasi arah radial A/m πβ
magnetisasi arah tangensial A/m Magnet Magnet adalah sebuah benda yang mampu menarik benda disekitarnya karena memiliki sifat kemagnetan. Kemagnetan sendiri adalah suatu fenomena fisik yang timbul dari medan magnet. Sifat dari suatu magnet dapat ditentukan dari medan magnet, induksi magnet dan lain sebagainya. Magnet memiliki beberapa jenis dan tipe, salah satunya adalah magnet permanen. Dari segi ukuran, magnet permanen mampu menghasilkan medan magnet yang sama dengan kumparan elektromagnetik dengan ukuran yang lebih kecil. Hal ini diilustrasikan pada gambar Ilustrasi Perbandingan Ukuran Magnet dan Kumparan. Gambar Ilustrasi Perbandingan Ukuran Magnet dan Kumparan Karakteristik dan Sifat Material Magnet Permanen Untuk menghasilkan medan magnet yang kuat dengan ukuran yang kecil, maka material yang tepat untuk magnet permanen adalah material ferromagnetik. Material ferromagnetik tersedia dengan berbagai karakteristik. Pada umumnya, material ferromagnetik dibagi menjadi dua kategori utama berdasarkan karakteristik histerisisnya yaitu, soft magnetic materials dan hard magnetic materials. Perbedaan antara keduanya ada di nilai coercitivity, hal ini dapat dijelaskan oleh gambar Hysterisis Loop. Gambar Hysteresis Loop Dari gambar hard magnetic materials memiliki nilai coercivity yang lebih besar. Disebut hard magnetic material karena sifat kemagnetannya susah untuk dibuat maupun dihilangkan. Terdapat dua kelompok hard magnetic materials yaitu, magnet konvensional dan rare earth. Dari tabel Material Magnet Permanen, magnet konvensional seperti Alnico dan Ferrite memiliki produk energi maksimum sebesar 2-80 kJ/m3. Sedangkan produk energi untuk magnet rare earth lebih besar dari 80 kJ/m3. Alasan utama keunggulan rare earth adalah nilai magnetorystalline anisotropy yang tinggi seperti NdFeB dan SmCo. Tabel Karakteristik Material Magnet Permanen No. Magnet Demagnetisasi Demagnetisasi adalah fenomena dimana sebuah magnet kehilangan sifat kemagnetannya. Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan demagnetisasi, yaitu temperatur pengoperasian dan elektromagnet secara AC. Temperatur memiliki efek yang signifikan terhadap sifat kemagnetan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya temperatur mengakibatkan bergetarnya atom-atom sehingga magnetic moment memiliki orientasi yang acak. Magnetisasi sebuah material maksimal berada pada suhu -273oC 0 K karena pergerakan atom menjadi minimal. Bagaimanapun, magnetisasi akan menurun seiring dengan pertambahan temperatur. Pada suatu temperatur, nilai magnetisasi akan menjadi nol. Temperatur ini disebut temperatur Curie. Ketika material ferromagnetik dipanaskan lebih dari temperature Curie, material akan berubah sifat menjadi paramagnetik. Besar temperatur Curie tiap material berbeda seperti yang tertera di tabel Temperatur Curie Magnet Permanen. Tabel Temperatur Curie Magnet Permanen No. Material Temperatur Curie oC 1 Alnico 850 2 SmCo 720 3 NdFeB 310 4 Ferrite 450 Sebuah magnet permanen utamanya beroperasi pada kuadran kedua dari hysteresis loop. Data dalam kuadran ini biasa disebut kurva demagnetisasi yang dapat menjelaskan sifat magnet dalam medan demagnetisasi yang berbeda. Fenomena ini cukup rumit tapi proses yang paling utama adalah terbentuknya domain yang terbalik. Kurva demagnetisasi terdiri dari dua garis yang mendekati linear yang terpisahkan oleh daerah dengan lekukan kecil yang disebut dengan knee point seperti pada gambar Kurva Demagnetisasi. Gambar Kurva Demagnetisasi Demagnetisasi juga bisa terjadi karena adanya medan magnet dari luar dan pertambahan suhu. Di sisi lain, demagnetisasi dapat terjadi dengan sendirinya dikarenakan kutub utara dan selatan yang bebas pada ujung magnet menghasilkan medan magnet yang berlawanan dengan magnetisasi dari magnet tersebut. Namun karena nilainya yang kecil, diasumsikan nol. Tinjauan Software Simulasi Finite Element Method Metode elemen hingga atau finite element method merupakan suatu pendekatan numerik dimana bidang telaah dibagi menjadi banyak daerah geometri sederhana yaitu segitiga atau tetrahedral dan masing-masing daerah mempergunakan persamaan secara khusus. Perhitungan-hingga ratusan persamaan-ini dikerjakan oleh software simulator secara simultan. Pengembangan dan penerapan metode ini mula-mula disarankan untuk menganalisis permasalahan struktur pada tahun 1960 dan dikenalkan pada komputasi electromagnetic pada tahun 1970. Permasalahan magnetostatic adalah permasalahan magnetisme yang tidak berubah menurut waktu time-invariant. Medan magnet seperti ini dihasilkan dari sumber arus konstan atau magnet permanen. Permasalahan magnetostatic pada penelitian ini dapat diselesaikan menggunakan software komputasi finite element method. Software komputasi finite element method dalam bidang magnetostatic yang cukup handal dan memadai menurut hasil pencarian adalah Ansys Maxwell 3D, software ini memiliki antarmuka yang mudah dipahami dan mampu menyajikan data dengan sangat baik. Software alternatif lainnya antara lain a MagNet dari Infolytica, b FEMM, c SEMFEM dari Python, d FLUX dari Magsoft, e JMAG dari JMAG Group, f COMSOL Multiphysic dari COMSOL, g Opera dari Vector Fields. Berikut ini adalah tampilan software Ansys Maxwell 3D yang digunakan dalam penelitian ini. Gambar Antarmuka Software Ansys Maxwell 3D untuk Komputasi dan Visualisasi Permasalahan Magnetostatic Dimulai dari persamaan Maxwell dan diasumsikan bahwa muatannya tetap atau bergerak sebagai arus tetap J, persamaan dipisahkan menjadi dua persamaan untuk medan magnet. Karena bidang tidak bergantung terhadap waktu didapatkan persamaan magnetostatic sebagai berikut β Γ π» = π½ β β π΅ = 0 dengan H = Intensitas medan magnet B = Kerapatan fluks magnet Kedua persamaan di atas mengikuti hubungan antara intensitas medan magnet dengan kerapatan fluks magnet. Jika material magnet non-linier misalnya magnet AlNiCo maka permeabilitas magnet ΞΌ merupakan fungsi dari B. ΞΌ = π΅ π»π΅ Solver terus mencari bidang yang memenuhi persamaan melalui pendekatan potensial vektor magnetik. Kerapatan fluks ditulis dalam bentuk potensial vektor, A, sebagai berikut π΅ = β Γ π΄ Sekarang definisi dari B akan akan memenuhi persamaan Kemudian persamaan dapat ditulis sebagai berikut β Γ 1 ππ΅β Γ π΄ = π½ Untuk material isotropik linier dan diasumsikan Coulomb gauge β β π΄ = 0, persamaan direduksi menjadi sebagai berikut β1 πβ2π΄ = π½ Solver mempertahankan bentuk dari persamaan sehingga permasalahan magnetostatic dengan hubungan B-H non-linier dapat diselesaikan. Penyelesaian metode elemen hingga umumnya menggunakan metode matriks. Setiap elemen memiliki persamaan yang akan digabungkan menjadi sebuah persamaan dari keseluruhan sistem. Persamaan tersebut digunakan untuk mendapatkan parameter yang ingin dicapai dari pemodelan sistem. Persamaan yang digunakan sebagai berikut {πΉ} = [πΎ] β [π΄] β [π] + [π] dimana F matriks gaya Lorentz K matriks kontribusi massa A matriks magnetic vector potential P matriks non-null current density Q matriks non-homogeneous Neumann boundary Matriks P memiliki nilai ketika pada source magnet terdapat current density. Matriks Q memiliki nilai ketika terdapat batasan Neumann yang tidak homogen. Dalam kasus 3D secara umum, A adalah vektor dengan tiga komponen. Namun, dalam kasus planar 2D dan asimetrik, dua dari tiga komponen tersebut bernilai nol, hanya menyisakan komponen pada arah "keluar dari halaman". Keuntungan menggunakan formulasi potensial vektor adalah bahwa semua kondisi yang harus dipenuhi digabungkan menjadi satu persamaan tunggal. Jika A ditemukan, B dan H kemudian dapat disimpulkan dengan menurunkan A. Bentuk dari persamaan diferensial parsial elips, muncul dalam studi berbagai jenis fenomena teknik. Ada sejumlah besar alat yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun untuk menyelesaikan masalah. Tinjauan Pustaka Terdapat beberapa penelitian yang dijadikan referensi dalam analisis ini antara lain G. Muruganandam, pada tahun 2013 melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisa beban torsi yang dialami magnetic bevel gear dengan beberapa konfigurasi yang meliputi celah udara dan jumlah magnet dengan rasio dan dimensi yang tetap. Pada penelitian tersebut, dilakukan penyelesaian secara matematis dengan bantuan software MATLAB dan MagNet. a b Gambar Hasil Simulasi dengan Variasi Np =16, NL = 4 dan Celah Udara 0,5 mm a Flux Density b Grafik Torsi terhadap Waktu Gambar Hasil Simulasi dengan Variasi Np =16, NL =4 dan Celah Udara 0,5 mm menunjukkan bahwa magnetic gear mampu mentransmisikan daya sesuai dengan desain yang telah dibuat yaitu sebesar 29 Nm dan flux density sebesar T namun masih mengalami masalah dengan terjadinya slip pada saat torsi yang disalurkan mendekati dan lebih dari perkiraan desain. Yi-Chang Wu, pada tahun 2015 melakukan penelitian yang membahas tentang analisis pengaruh geometri dan parameter material terhadap torsi yang ditransmisikan oleh magnetic spur gear. Pada penelitian ini, dilakukan simulasi menggunakan software Ansoft Maxwell. a b c Gambar Hasil Simulasi Yi-Chang Wu a Grafik T vs Air Gap b Grafik T vs Remanence c Grafik T vs Jumlah Magnet Gambar Hasil Simulasi Yi-Chang Wu menunjukkan bahwa jumlah magnet, celah udara dan nilai Remanence dari magnet permanen memiliki pengaruh terhadap torsi yang ditransmisikan dengan error berada di bawah 10%. Hasil dari simulasi telah mendekati spesifikasi desain yang telah dibuat. Dari tinjauan penelitian sebelumnya, belum pernah dilakukan penelitian tentang bevel gear dengan sudut poros lebih dari 90o dan dibandingkan dengan mechanical gear. Pada penelitian ini, akan dilakukan analisis pengaruh jumlah magnet dan celah udara terhadap karakteristik torsi yang ditransmisikan dengan batasan geometri yang mendekati dengan produk mechanical gear yang sudah ada. Dari penelitian ini, akan diketahui bagaimana konfigurasi yang tepat agar angular magnetic bevel gear dapat memiliki kemampuan menyerupai mechanical bevel gear. 29 Penelitian mengenai angular magnetic bevel gear memiliki beberapa tahapan yang dilakukan. Dalam bab ini, akan dijelaskan bagaimana melakukan tahapan-tahapan hingga penelitian ini selesai. Diagram Alir Penelitian Mulai Observasi Perumusan Masalah Studi literatur Penentuan data awal A ` A Pemodelan 3D angular magnetic bevel gear Validasi simulasi Simulasi FEM angular magnetic bevel gear magnetostatic solution Simulasi FEM angular magnetic bevel gear transient solution Pengambilan dan pengolahan data B Gambar Diagram Alir Penelitian Gambar merupakan diagram alir yang menjelaskan tahapan-tahapan penelitian pada tugas akhir ini. Penjelasan mengenai tiap tahapan pada diagram alir adalah sebagai berikut Observasi Observasi merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian ini. Tujuan dilakukan observasi adalah menentukan ruang lingkup permasalahan yang akan dijadikan penelitian. Dalam hal ini, observasi dilakukan pada lingkup angular magnetic bevel gear dengan sudut poros 120o. B Analisa data dan pembahasan Kesimpulan penelitian Selesai Perumusan Masalah Setelah observasi dilakukan, dilakukan perumusan masalah yang terdapat pada lingkup observasi yang dilakukan. Permasalahan yang akan diteliti adalah potensi yang dimiliki oleh angular magnetic bevel gear untuk menggantikan roda gigi konvensional. Untuk itu, rumusan masalah yang telah ditentukan adalah bagaimana karakteristik torsi dari desain angular magnetic bevel gear dengan variasi jumlah magnet dan celah udara. Studi Literatur Studi literatur bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih detail untuk menunjang penelitian yang akan dilakukan. Informasi yang dicari berupa dasar teori roda gigi, magnetic gear, karakteristik magnet permanen, metode elemen hingga dan penelitian terdahulu yang telah dirangkum. Penentuan Data Awal Data awal yang digunakan berasal dari spesifikasi angular miter gear produksi Kohara Gear Industry Co., Ltd. dengan kode SAM3-20120. Dari spesifikasi tersebut, diambil parameter dimensi dan torsi yang mampu ditransmisikan. Spesifikasi angular miter gear produksi Kohara Gear Industry Co., Ltd. dengan kode SAM3-20120 terdapat pada gambar Spesifikasi tersebut yang menjadi dasar perancangan angular magnetic bevel gear. a b c Gambar Spesifikasi SAM3-20120 a Gambar Teknik b Dimensi c Dimensi dan Torsi Pemodelan 3D Angular Magnetic Bevel Gear Perancangan model 3D angular magnetic bevel gear dilakukan dengan program Inventor 2017. Pada gambar Sketch 2 Dimensi, terdapat dua buah bagian yang dibuat yaitu hub gear dan magnet permanen. Berikut penjelasan lebih detail dari pemodelan 3D a. Membuat sketch yang nantinya akan diproses agar menjadi 3 dimensi. a b Gambar Sketch 2 Dimensi a Hub Gear b Magnet Permanen b. Sketch yang telah dibuat kemudian diproses revolute agar menjadi 3 dimensi seperti pada gambar Model 3D. Untuk bagian hub gear, dilakukan revolute sebesar 360o. Sedangkan bagian magnet permanen, dilakukan revolute sebesar 90o untuk jumlah magnet 4 buah, 45o untuk jumlah magnet 8 buah dan 22,5o untuk jumlah magnet 16 buah. a b c d Gambar Model 3D a hub gear b Magnet Permanen 90o c Magnet Permanen 45o d Magnet permanen 22,5o Validasi Simulasi Simulasi pada penelitian ini menggunakan software Ansoft Maxwell 3D v. 17. Untuk membuktikan apakah simulasi yang dilakukan sudah sesuai, dilakukan validasi simulasi dengan objek simulasi adalah model dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Murugunandam. Pada validasi simulasi ini, diharapkan hasil yang mendekati hasil yang ada pada penelitian tersebut. Software yang digunakan pada penelitian yang dilakukan Muruganandam adalah MagNet. Hasil yang didapatkan pada penelitian oleh Muruganandam terdapat pada Gambar Hasil Simulasi dengan Variasi Np =16, NL = 4 dan Celah Udara mm a Flux Density b Grafik Torsi terhadap Waktu. Untuk hasil seluruh simulasi dapat dilihat pada tabel Hasil Simulasi Penelitian Muruganandam Tabel Hasil Simulasi Penelitian Muruganandam Air Gap Length mm 1 mm mm 2 mm Result 29 Nm Nm Nm Nm Kemudian dilakukan simulasi menggunakan software Ansoft Maxwell 3D v. 17 dengan model yang sama dengan penelitan oleh Murugunandam. Gambar adalah hasil simulasi untuk model yang dibuat oleh Murugunandam. Gambar Hasil Validasi Simulasi Sedangkan untuk hasil validasi simulasi yang lain terdapat pada tabel Tabel Hasil Validasi Simulasi Air Gap Length mm 1 mm mm 2 mm Result 28,9 Nm Nm Nm Nm Dapat dilihat bahwa hasil validasi simulasi tidak berbeda jauh dari hasil penelitian oleh Muruganandam. Error yang terjadi di bawah 10% sehingga dapat disimpulkan bahwa simulasi yang dilakukan valid. Simulasi FEM Magnetostatic Solution Setelah model 3D angular magnetic bevel gear telah dibuat, dilakukan simulasi FEM dengan penyelesaian magnetostatic. Penyelesaian magnetostatic dilakukan pada kondisi statis. Dari simulasi ini akan didapatkan hasil berupa static magnetic field H, current density J dan magnetic flux density B. Selain itu, didapatkan juga besaran turunan seperti gaya dan torsi. Penjelasan lebih lanjut mengenai tahapan pada simulasi FEM magnetostatic solution akan dijelaskan pada sub bab Simulasi FEM Transient Solution Setelah simulasi FEM magnetostatic solution telah selesai, dilakukan simulasi FEM dengan penyelesaian transient. Penyelesaian transient dilakukan dengan basis waktu. Dari simulasi ini akan didapatkan hasil berupa static magnetic field H, current density J dan magnetic flux density B. Selain itu, didapatkan juga besaran turunan seperti gaya dan torsi. Penjelasan lebih lanjut mengenai tahapan pada simulasi FEM magnetostatic solution akan dijelaskan pada sub bab Pengambilan dan Pengolahan Data Setelah semua simulasi telah selesai, data pokok yang diambil adalah torsi yang ditransmisikan. Data yang didapat adalah hasil variasi jumlah magnet dan celah udara. Setelah itu, data tersebut dikelompokkan menjadi sesuai jumlah magnet dan dibuat grafik. Kemudian, ketiga grafik tersebut dimasukkan dalam satu grafik untuk dianalisa. Analisa Data dan Pembahasan Setelah data selesai diolah, dilakukan analisa dan pembahasan mengenai hasil dari simulasi. Analisa meliputi bagaimana pengaruh jumlah magnet terhadap karakteristik torsi dan bagaimana pengaruh celah udara magnet terhadap karakteristik torsi. Kesimpulan Penelitian Dari analisa data dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan yang menjawab tujuan dari penelitian ini. Diagram Alir Simulasi Mulai Input model 3D dengan variasi jumlah magnet dan celah udara C D C Kombinasi variasi 1. Magnet 4; Air gap 0,5 mm 2. Magnet 4; Air gap 1 mm 3. Magnet 4; Air gap 2 mm 4. Magnet 8; Air gap 0,5 mm 5. Magnet 8; Air gap 1 mm 6. Magnet 8; Air gap 2 mm 7. Magnet 16; Air gap 0,5 mm 8. Magnet 16; Air gap 1 mm 9. Magnet 16; Air gap 2 mm D Assign material Atur region E F E F Assign boundary & excitation Assign meshing operation Assign parameter dan analysis setup Validation check dan analyze all Konvergen ? Tidak G Kombinasi variasi H Ya ` G H Transient solution type Assign motion Angular velocity = 100 rpm Assign parameter dan analysis setup Validation check dan analyze all Post-processing 1. Torsi terhadap waktu 2. Distribusi flux density I J Gambar Diagram Alir Simulasi Gambar merupakan diagram alir yang menjelaskan tahapan-tahapan simulasi penelitian ini. Simulasi menggunakan software Ansoft Maxwell v17. Penjelasan tentang tiap tahapan adalah sebagai berikut. Input Model 3 Dimensi Untuk melakukan input model 3 dimensi, hal yang pertama dilakukan adalah membuka software ANSYS Electronics v18 kemudian pilih project Maxwell 3D Design. Input model 3 dimensi I J Kombinasi variasi Berulang hingga seluruh kombinasi digunakan Pengambilan dan pengolahan data Selesai terdapat pada menu Modeler. Bagian angular magnetic bevel gear yang harus dimasukkan adalah hub gear dan magnet permanen seperti pada gambar Hasil Input dan Assembly 3D Model. Penyusunan model dilakukan dengan variasi jumlah magnet permanen seperti pada tabel Penyusunan dilanjutkan dengan mengatur variasi celah udara pada pasangan angular magnetic bevel gear sebesar 0,5; 1; dan 2 mm. Tabel Spesifikasi Magnet Permanen dengan Variasi Jumlah Magnet No. Kelompok Magnet Volume x 10-9 m3 1 4 Magnet 1330,45 2 8 Magnet 665,22 3 16 Magnet 332,61 Gambar Hasil Input dan Assembly 3D Model Assign Material Setelah memasukkan model ke dalam project, dilakukan assign material yang berfungsi memberikan material pada model. Material yang digunakan berasal dari library Ansoft Maxwell Material hub gear adalah steel 1010, sedangkan magnet permanen menggunakan NdFeB48M. Properties untuk tiap material terdapat pada gambar a b Gambar Material Properties a Steel 1010 b NdFeB48M Atur Region Region adalah daerah di sekitar angular magnetic bevel gear yang dianggap sebagai ruang permeabilitas. Pembuatan region dilakukan dengan membuat model 3D berbentuk balok dengan ukuran 400 x 400 x 400 mm dan diatur sebagai daerah berisikan udara seperti pada gambar Gambar Pembuatan Region